Home Manajemen

Manajemen

Daftar Tugas dan Pengurutannya

Adalah keharusan bagi seorang manager untuk mem-breakdown atau memecah tugas-tugas menjadi unit yang lebih kecil. Hal ini akan memudahkan penjadwalan kegiatan. Jika seorang manager tidak mengetahui tugas-tugasnya, bagaimana dia bisa menjadwal waktunya?

Sebagai manager, adalah penting untuk menghindari pengurutan jadwal tugas untuk dijadikan sebuah prioritas pada saat melakukan brainstorming membuat daftar tugas. Fokus pada daftar tugas saja dulu, prioritas menyusul kemudian pada saat perencanaan. Saya termasuk orang yang sering melakukan kesalahan ini, yaitu terburu-buru membuat prioritas pada saat seharusnya saya mem-breakdown daftar tugas.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan terlalu cepat menghapus tugas. Tuliskan semua yang ada di pikiran kita saat membuat daftar tugas tanpa perlu memikirkan hal lain. Kita memerlukan pikiran yang lancar, yang bebas hambatan saat membuat daftar tugas agar tidak ada tugas yang tertinggal. Tugas yang seharusnya ada dalam daftar tugas kita namun kita melupakannya, bisa membuat satu pekerjaan hancur.

 

Makin banyak, makin kompleks

Jika suatu kelompok bertumbuh menjadi besar, maka mereka harus siap untuk menghadapi konflik.

Jika sebuah elemen/komponen bertemu berkumpul dengan elemen lain, maka akan terjadi konflik. Ini disebabkan adanya interest yang berbeda pada masing-masing komponen. Semakin kompleks maka potensi konflik akan menjadi semakin besar.

Suatu rangkain komponen, saat diterapkan pada sebuah sistem radio rangkaian itu berjalan dengan baik. Namun rangkaian yang sama saat diterapkan pada sebuah sistem televisi rangkaian itu tidak dapat berjalan dengan semestinya. Sistem televisi memiliki kompleksitas yang jauh rumit ketimbang radio. Meskipun komponen rangkaian tersebut sama, namun hasilnya akan berbeda jika diterapkan pada sistem yang lebih besar.

Mungkin Anda dan saya saat ini mengelola sebuah perusahaan konsultan. Pada awalnya kita hanya berdua. Lalu kita memiliki 5, 10 dan akhirnya 20 pegawai. Semua berjalan lancar. Namun hal ini tidak menjamin kelancaran yang terus menerus saat pegawai mencapai 50 orang. Harus ada penyesuaian sistem. Tanpa itu, tidak mungkin kinerjanya akan berjalan baik.

Ingatlah sekali lagi hukum ini : Makin banyak, makin potensi untuk konflik.

 

Membangun sebuah budaya

Kita tidak bisa membangun sebuah budaya kerja yang baik di perusahaan dengan aturan-aturan. Karena budaya bukanlah sebuah ‘aturan tertulis', budaya adalah sebuah aturan tidak tertulis. Budaya adalah sebuah adat, sebuah kebiasaan.

Adalah penting bagi seorang pemimpin untuk dengan sengaja membangun sebuah budaya di lingkungannya. Biasanya, masuknya budaya sering kali tidak disadari oleh orang. Jika mereka merasa senang, nyaman dan sesuai dengan nilai mereka, maka mereka akan menerimanya. Dan penerimaan ini secara tidak langsung & bahkan cenderung tidak disadari, akan dengan sendirinya menjadi sebuah budaya.

Budaya dibangun dengan perasaan & pengalaman. Olah pikir saja tidak cukup untuk membangun suasana yang nantinya akan menjadi budaya. Budaya haruslah sampai pada tataran rasa karena budaya butuh sebuah daya resap yang kuat. Daya resap terkuat letaknya bukan di pikiran, tapi di hati.

Satu hal lagi yang penting untuk membangun budaya adalah keteladanan. Budaya sulit dibangun dengan kata-kata maupun tulisan karena budaya haruslah menjadi sebuah pengalaman. Darimana membangun pengalaman jika tidak ada perbuatan nyata? Tidak bisa! Orang yang memasukkan budaya adalah orang pertama yang melaksanakan budaya tersebut.

Kita lihat banyak para pemimpin perusahaan maupun organisasi gagal membangun budaya organisasi karena mereka mengandalkan kedudukan dan kekuasaannya. Mereka merasa berkuasa lalu mereka membuat aturan-aturan. Siapa bilang manusia suka diatur? Kecenderungan manusia adalah tidak suka diatur, namun mereka suka untuk memilih pilihannya sendiri. Bahkan agama ada bukan sebagai sebuah paksaan, tapi sebuah pilihan. Mereka yang suka bisa ambil, yang tidak suka bisa meninggalkannya. Tapi perlahan mereka sadar bahwa pilihan adalah sebuah konsekuensi.
 
Halaman 1 dari 8