Gagal itu cuma kesandung, kepleset….jatuh. Setelah jatuh kalo dia bangun, namanya bangkit. Kalo tidak bisa bangun, namanya menyerah.
Yang mesti kita hindari adalah zona menyerah. Sedangkan zona gagal tidak dapat dihindari, namun harus dihadapi. Kebangkitan adalah sebuah koneksi. Sedangkan menyerah adalah terputusnya koneksi.
Kira-kira begini…
Tidak ada satupun signal hp yang stabil terus menerus. Ada saat signal kuat, ada saat signal sedang-sedang, ada saat signal lemah. Atau bahkan ada saat signal hilang. Kekuatan signal tergantung kekuatan koneksi antara pemancar signal dan penerima signal.
Begitupun dengan kita. Motivasi kita untuk bangkit, untuk tidak menyerah, tergantung dari seberapa kuat kita sebagai signal receiver untuk menerima koneksi dari pemancar atau sumbernya. Kekuatan koneksi ada disitu. Antara keterhubungan penerima dan pemancar.
Percuma saat signal receiver siap menerima namun pemancar tidak kuat mengirim signal. Percuma juga saat pemancar mengirim signal, namun penerima tidak menangkapnya. Harus ada sebuah dial. Sebuah keterhubungan dua arah. Harus juga ada sebuah konektor. Kita tidak bisa terhubung dengan tower indosat, telkomsel dan xl kalau kita tidak punya hp. Kalau sudah punya hp, kita belum juga dapat terhubung kalo belum punya sim card. Kita butuh konektor, yaitu sesuatu yang menghubungkan kita dengan pemancar.
Ada pemancar yang unlimited dan ada yang limited. Sayangnya yang sering kita kejar-kejar adalah pemancar yang limited. Yang sering menjadi sumber inspirasi dan motivasi diri. Uang, kekuasaan, wanita, dll…semua adalah sumber pemancar yang limited edition, pemancar yang semu. Sedangkan pemancar unlimited adalah dari Allah yang termanifestasi ke dalam diri Muhammad, yang kemudian termanifestasi kembali ke dalam diri para wali dan sultan, tidak pernah kita rambah. Padahal signal selalu dikirim olehnya, tidak pernah habis. Namanya juga unlimited. Namun tidak adanya koneksi adalah karena kita tidak menangkap signal tersebut. “Kita sibuk dalam ego dan sensasi”, kata Syaikh Mustafa. Ego dan sensasi inilah tersangka utama sebagai penghalang koneksi.
Menarik apa yang dikatakan oleh Novia Kolopaking selepas pementasan Teater Dinasti bertajuk ‘Tikungan Iblis’. Keterlibatan Novia di teater merupakan pergerakan dirinya pada area idealisme. Sementara sinetron bergerak dalam sisi komersialisme.
Dunia entrepreneur dipenuhi oleh kurungan komersialisme. Sehingga nilai-nilai ideal mereka raib dibeli oleh uang.
Para entpreneur makin terkurung saat memaknai Customer Oriented. Di bisnis jasa namanya Client Oriented. Pemaknaan yang berlebihan ini bikin para entpreneur keblinger. Diri mereka dibeli oleh konsumen sebab mereka tidak mempunyai nilai ideal yang dipegang teguh. Apa mau konsumen akan mereka usahakan mati-matian. Meskipun itu harus mematikan nilai dirinya sendiri. Kacau…kacau…
Saking memegang teguh pelayanan terhadap konsumen, mereka melupakan waktu mereka untuk keluarga. Mereka lupa waktu untuk Tuhannya. Dan sering kali mereka lupa akan diri mereka sendiri. Apalagi namanya jika bukan nilai diri mereka dibeli oleh konsumen?
Sebegitu parahkah kita dalam memaknai Customer Oriented?
Bukankan keluarga juga ‘customer’ kita? Bukankah orang-orang yang kekurangan juga ‘customer’ kita? Bahkan diri kita sendiri adalah sejenis customer. Semua butuh dilayani. Apa-apa yang butuh dilayani adalah customer dalam arti yang lebih universal.
Tuhan sebagai customer artinya kita mendapatkan ‘profit’ spiritual. Mendapat barokah. Keluarga, orang-orang terdekat sebagai customer artinya ‘profit’ sosial. Ranah spiritual & sosial inilah yang jarang dijamah oleh entrepreneur keblinger. Padahal ranah spiritual & sosial ini adalah tipe ‘rejeki tak terduga’ yang unlimited edition. Dan entrepreneur selalu menyibukkan dirinya untuk mengejar rejeki yang terduga yang limited edition. Entrepreneur keblinger namanya.
Setiap entrepreneur seharusnya paham formula Materi-Energi-Cahaya.
13 Nopember 2008 kemarin saya mengikuti workshop Business Plan yang disediakan gratis oleh IBL (Indonesian Business Link) untuk para peserta YES (Young Entrepreneurship Startup) Business Competition. Workshop ini diperuntukkan bagi para peserta yang sudah lolos seleksi tahap I. Ada sekitar 50-an orang. Saya termasuk salah satu di dalamnya. Dari 50-an peserta tersebut hanya akan diambil 10 peserta sebagai pemenang.
Yang paling saya sukai adalah sesi I dari workshop ini yang diisi oleh Pak Syamsul, owner dari Simpulnet. Apa yang bagus pada sesi ini? Pak Syamsul adalah pelaku bisnis yang bisa dibilang udah sukses. Nah yang namanya pelaku kalo dikasih materi yang sistematis jadilah kemasan yang pas. Jadi workshop di sesi I ini terasa lengkap dari sisi general knowledge, methodology & technical know how yang berbasis pada studi kasus.
Ditambah lagi Pak Syamsul berbisnis jasa. Bidangnya pun Creative Work. Ini sejenis dengan bisnis yang saya jalani.
Satu hal dari bisnis jasa yang saat ini sedang saya pertanyakan adalah masalah penentuan harga pada bisnis jasa. Bisnis pembuatan web termasuk bisnis yang harganya variatif aktif. Penentuan harga tidak baku. Ini yang membuat saya kadang bingung untuk menentukan harga pada calon klien saya. Dan saya suka dengan jawaban Pak Syamsul atas hal ini.