Home Manajemen Temukan Orang dulu, baru Strategi

Temukan Orang dulu, baru Strategi

Ini adalah prinsip yang dipakai Jack Welch dalam manajemen GE. Saya ikut merasakannya dalam model bisnis MLM yang pernah saya jalani selama 1,5 tahun. Strategi maupun taktik apapun yang saya kembangkan untuk menarik prospek, jika saya belum menemukan orang (dalam hal ini downline) yang tepat untuk menjalankannya maka pertumbuhan omset saya tidak terlalu bagus. Ketika saya menemukan orang kunci di jaringan saya, omset saya langsung meningkat 100%, itu minimal. Tentu saja ini berbanding lurus dengan profit yang saya dapat.

Saya terapkan hal tersebut dalam bisnis saya yang lain, Rings Movie Station. Dalam 8 bulan pertama saya kerja rodi. Hasilnya seperti yang dilaporkan di kantor pajak, alias nihil. Setelah saya evaluasi lebih dalam, memang selama 8 bulan itu saya berkutat pada strategi. Namun ketika menemukan orang tepat, keluarlah saya dari kenihilan tersebut dalam bulan selanjutnya. Strategi adalah buntutnya orang. Strategi tercipta dengan sendirinya ketika orang sudah ditemukan.

TDA Joglo berkembang pesat karena Pak Budi Prajitno menemukan orang-orang seperti Pak Bams Triwoko yang di kemudian hari muncul orang-orang berikutnya. Begitu juga dengan TDA Pusat, komunitas tersebut berkembang pesat setelah founder TDA, Pak Roni, menemukan orang-orang yang tepat. Apakah betul begitu Pak Roni? Para founder bukan superman yang bisa mengerjakan apa-apa sendiri.

Pengamatan saya pun berlanjut kepada teman saya yang terjun dalam bisnis resto. Dia mendirikan resto tersebut dengan modal sekitar 500 juta. Sayangnya, 6 bulan pertama dia stag. Bisnisnya tidak berkembang bagus.

Kami sering sharing masalah bisnis. Oleh karenanya saya tahu banyak tentang bisnisnya. Beberapa anak buahnya pun saya kenal. Sering, bahkan hampir setiap bertemu dia mengeluh tentang bisnisnya. Sebetulnya saya mengetahui/menebak masalahnya, namun ketika kami berbincang saya lebih sering pada posisi sebagai pendengar setia radio resto fm.

Ada rasa ingin memberi tahu, namun tidak saya lakukan. Kurang pas rasanya menasehati orang yang merasa lebih tahu dan lebih pintar darinya. Dan memang saya tidak lebih pintar, hanya saja jauh lebih obyektif karena saya ‘orang luar’ yang tidak punya kepentingan terhadap bisnsinya. Jarang dia menggunakan pandangan obyektif, buktinya dia tidak pernah bertanya maupun meminta pendapat. Selalu berbicara.

Akhirnya, saya lontarkan pertanyaan kepadanya, “menurutmu mana yang lebih penting, orang atau strategi?”. Spontan dia berkata,”Jelas strategi!.” Kemudian dia menjelaskan betapa pentingnya strategi. Bla bla bla...

Saya mendapat jeda pembicaraan yang saya manfaatkan untuk berpendapat,”Kalau saya pilih orang dulu, baru strategi (sebenarnya Jack Welch yang memilih ini, saya hanya setuju saja). Karena strategi tersebut dibuat oleh orang. Tambah lagi strategi tidak akan berjalan tanpa orang yang mengeksekusinya.” Intinya saya melihat permasalahan adalah pada SDM. Sayangnya, SDM tersebut termasuk ownernya sendiri.

Karena dia bersikeras pada pendapatnya, akhirnya saya mengamati proses perjalanan bisnis resto teman saya tersebut. Mungkin saja saya & Jack Welch yang kurang pas.

Yang membuat saya cukup kaget adalah dia justru merenovasi design interior restonya, dengan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya cukup untuk membayar satu orang profesional untuk ukuran Jogja selama satu tahun. Alhasil, tidak ada peningkatan profit yang signifikan dengan perombakan tersebut.

Bukan dia tidak mampu untuk membayar seorang yang tepat di bidangnya, hanya saja dia merasa menghamburkan uang jika dia membayar lebih untuk mendapatkan orang yang benar-benar tepat. Namun untuk sebuah strategi, dalam hal ini design interior, dia berani mengeluarkan uang lebih. Apakah ini lucu? Menurut saya tidak, namun tetap saja membuat saya tersenyum.

Buat saya yang kebetulan sedang satu frekuensi pemikiran dengan Jack Welch, kuranglah bijak mengeluarkan uang banyak untuk sebuah strategi jika belum menemukan orangnya.

Dan sekarang 2 tahun telah berlalu, dan saat ini dia hanya mendapatkan profit tidak sampai 10 juta per bulannya dari modal awal yang telah dia keluarkan sebesar ½ milliar. Info ini saya dapatkan langsung dari bagian keuangan resto tersebut yang kebetulan teman saya juga. Bisnisnya berjalan bagaikan pepatah ‘hidup segan, mati tak mau’. Seperti zombi. Beruntung teman saya ini punya subsidi silang dari bisnisnya yang lain warisan dari ayahnya.

Tiga bulan yang lalu dia masih menggunakan pandangan subyektif dalam mengembangkan bisnisnya. Padahal pandangan obyektif terbentang di depannya.

Orang dulu, baru strategi. Dimulai dari pemimpin puncak.


Newer news items:

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 10 Desember 2008 07:26 )