Tuhan adalah seluruh hal yang riil di antero jagat raya. Dia sendiri adalah energi. Dalam teori Einstein E=mc2, maka seluruh materi yang ada di alam semesta ini dapat dikonversi menjadi energi. Termasuk Tuhan sebagai sumber energi.
Manusia merupakan ekspresi dari energi yang memadat dan wujudnya tubuh fisik. Energi dalam bentuk esoterik pun merupakan bagian dari manusia. Semua molekul di alam semesta senantiasa bergerak memutar. Arahnya kebalikan dari arah jarum jam (thawaf). Atom pun seperti itu. Oleh karenanya semua materi ini berujung pada energi.
Wujud fisik membedakan antara satu materi dengan materi lainnya. Seperti gunung es, ada permukaan yang mengapung, yang seolah-olah memisahkan satu gunung es dengan yang lainnya. Padahal gunug es tersebut sejatinya memiliki satu substansi yaitu air.
Bila gunung es menyadari hakikatnya sebagai air, atau misalkan gunung es ini adalah manusia, sang manusia ini mampu masuk ke level ‘air’ dimana semua materi merupakan substansi yang sama dan dapat dimaterialisasikan dan di dematerialisasikan. Efeknya munculah ‘keajaiban’ untuk berkehendak dengan kekuatan ‘langit’ dimana semua orang sebetulnya mampu melakukannya.
Inilah yang dinamakan transformasi materi-energi-cahaya. Dimana sudah diterbitkan melalui teori Einstein E=mc2.
E : energi;
m : materi/massa;
c : cahaya
Cahaya disini adalah kekuatan Raja. Dimana sesuatu yang horizontal (materi) dan kemudian digerakkan kearah vertikal menuju langit (cahaya) maka energi yang dihasilkan akan berlipat ganda. Kebanyakan kita hanya memikirkan ‘m’ dari rumus Einstein tanpa pernah mengorek ‘c’ dari rumus Einstein yang ternyata nilainya kuadrat (berlipat ganda). Tampak riil bahwa semakin besar cahaya yang dihasilkan, semakin besar pula energi yang dihasilkan. Begitupun dengan materi. Namun perbedaannya adalah kekuatan cahaya adalah kekuatan kuadrat (lipat ganda) sedangkan kekuatan materi adalah kekuatan perkalian biasa.
Saat ini ada ungkapan ‘money (materi) isn’t everything but everything is money’. Dari rumus E=mc2, terlihat bahwa ‘light (cahaya) is everything from anything’ karena faktor terbesar pelipatgandaan konversi materi menjadi energi adalah cahaya.
Namun sayangnya cahaya dan hubungannya dengan rumus Einstein hanya akan menjadi wacana yang asyik dipikirkan ketika tidak disertai pengalaman. Pikiran tidak bisa menjadi cahaya, namun rasa lah yang dapat. ‘Piranti’ yang menghubungkan antara pikiran dan rasa adalah perenungan. Dan waktu terbaik untuk perenungan adalah dini hari dimana energi cahaya datang dari langit ke bumi berbondong-bondong. Kabar baiknya, energi cahaya yang datang dini hari tersebut datang intens setiap hari. Tinggal kita mau ambil atau tidak.
Dalam rangka penelitian fisika dan kosmologi, para ahli telah sampai pada suatu kesimpulan bahwa alam yang kita huni ini tercipta sekitar 15 milliar tahun yang lalu dari suatu titik singularitas fisis, dengan suhu yang “tak terhingga” tingginya dan kerapatan energi yang “tak terhingga” pula besarnya, laksana ledakan yang maha dahsyat. Hal tersebut sering disebut “Big Bang”. Foto-foto dari Cosmic Background Explier (COBE) menguatkan keyakinan ini, pada saat itu ruang dan waktu menjadi terbentang dan materi terhampar ke seluruh antero jagat raya.
14 abad lalu, E=mc2 ini telah terjadi demikian dahsyatnya pada seorang manusia yang mempunyai energi cahaya yang amat sangat luar biasa karena dekatnya dia dengan Sumber Energi. Peristiwanya adalah isra mi’raj, dan ‘aktor’ dari peristiwa tersebut adalah Sayyidina Muhammad SAW.
Isra mi’raj adalah gambaran sempurna dari E=mc2. Dimana materi sebagai gambaran peristiwa isra’ yaitu perjalanan horizontal dari Masjidil Haram, Makkah menuju Masjidil Aqsha , Palestina. Kemudian diteruskan dengan mi’raj yaitu perjalanan vertikal dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha/langit ke-tujuh. Mukjizat ini dapat berlaku ketika seseorang mempunyai akhlaq yang sempurna. Kekuatan cahaya adalah mengenai akhlaq dalam segala cabang kehidupan termasuk bisnis sekalipun. Oleh karena itu yang difokuskan para sufi adalah kemantapan akhlaq, bukan terpenjara pada hukum dan syariat yang menghadang pencapaian hikmah. Cahaya adalah penggalian konteks dan bukan terpaku pada konten.
Mengapa ada peristiwa isra’? Mengapa tidak langsung mi’raj saja? Mungkin ini mengajarkan pada kita untuk mengejar cahaya dalam perspektif mi’raj, menempuh prosesi dunia horizontal dengan materi sebagai wakilnya. Dunia horizontal penuh dengan ‘godaan’. Akhlaq yang tidak terpengaruh oleh godaan materi inilah yang menjadikan bentuk fisik memancarkan cahaya sehingga energi yang ditimbulkan menjadi tak terhitung dan tak terhingga besarnya.
E=mc2 memberi perspektif bahwa materi termasuk dalam faktor penentu besarnya energi. Namun faktor utama besarnya energi adalah cahaya sebagai unsur pelipat ganda.
Banyak orang tidak ngeh dengan energi cahaya karena kecenderungan manusia mengandalkan panca indera fisik. Masalahnya indera fisik ini memiliki keterbatasan karena hanya menangkap gelombang suara atau cahaya dalam batas frekuensi tertentu saja.
Namun kita dengan mudah percaya dengan gelombang radio meskipun hal tersebut tidak tampak hanya karena ilmuwan, hitungan dan alat yang berhasil menjelaskan keberadaannya. Gelombang radio adalah hasil perkalian antara materi dan pikiran. Sedangkan ‘gelombang cahaya’ adalah tentang materi dan rasa sehingga tidak dapat dihitung. Kabarnya baiknya, ‘gelombang cahaya’ dapat dideteksi keberadaannya dengan piranti yang bernama hati. Kabar buruknya (bagi sebagian orang), ‘gelombang cahaya’ tidak dapat dihitung karena bukan ilmu pasti seperti gelombang radio. ‘Gelombang cahaya’ mestilah menjadi sebuah pengalaman dan bukan sebuah wacana.
Untuk mendefinisikan realita, kita tidak dapat mengandalkan panca indera. Maka sebetulnya ilmu fisika ini mulai kabur batasnya karena kita mulai meninggalkan indera fisik kita sebagai tolak ukur. ‘Ilmu cahaya’ dapat didekati oleh science, namun tidak dapat menyatu lekat karena science adalah energi terbatas sedangkan energi seantero jagat raya ini tanpa batas. Science dengan segala keterbatasannya akan hancur lebur dalam perjalalan mendekati energi cahaya yang tanpa batas sebelum dapat menyatu dengannya.
Dalam buku “The Fabric of the Cosmos” tentang fisika, dijelaskan bahwa ada korelasi antara hal di atas dengan mekanika kuantum. Kalau tidak salah, ada hubungan dengan proton yang bersifat partikel dan gelombang, tergantung alat ukurnya. Ada semacam subyektifitas disini, karena tiap manusia menciptakan dunianya sendiri walaupun tetap ada kesinambungan.
Mengenai probabilitas, bahwa pada akhirnya ilmuwan hanya dapat memberikan probabilitas mengenai arah gerak/keberadaan sebuah partikel, bukan kepastian mengenai arah gerak/keberadaannya. Ini sejalan dengan ilmu pasrah.
Selain itu, dua buah proton bisa saling mempengaruhi pada saat bersamaan walaupun terpisah ruang dan waktu (space time) yang besar. Ini artinya tidak ada saling komunikasi dulu, tidak menunggu perintah, tapi perubahan terjadi secara kompak. Ini berarti ada bahwa ada ikatan/kesamaan di antara dua benda tersebut, seperti telepati yang terjadi secara instan pada saat bersamaan. Ini sejalan dengan olah rasa manusia yang terasah dengan baik untuk kemudian dapat ‘menebak’ rasa dan pikiran orang lain sebagai efek dari berpikir dengan hati. Dalam bisnis, ini adalah ilmu negoisasi yang dahsyat.
Dan ternyata Einstein tidak begitu suka dengan mekanika kuantum. Ia merasa bahwa fisika berbicara mengenai yang pasti-pasti saja, bukan probabilitas dan kemungkinan-kemungkinan. Einstein juga seorang entrepreneur?
Sebelum mengakhiri tulisan pemahaman materi-energi-cahaya, ada beberapa pandangan menarik dari para ilmuwan tentang “Einstein’s big idea” :
Sheldon Glashow
Theoretical Physicist and Nobel Laureate
Boston University
"When an object emits light, say, a flashlight, it gets lighter."
Janet Conrad
Experimental Physicist
Columbia University
"For me there's a lot more to the equation than E = mc2."
Michio Kaku
Theoretical Physicist
City University of New York
"E = mc2 is the secret of the stars."
Jaman sekarang, entrepreneur diakui sebagai salah satu solusi keterpurukan suatu bangsa. Kemudian banyak muncul istilah pengikut seperti writerpreneur, googlepreneur dll.
Era sufi telah menempuh perjalanan yang sangat panjang, berabad-abad, dengan menjaga tradisi mengejar cahaya melalui pelatihan intens, disiplin dan tingkat profesionalisme yang tinggi. Mungkin sekarang saatnya mengkombinasikan antara era wirausaha dan spiritual. Sebut saja ‘Sufipreneur’. Dengan menggenggam dunia di tangan, bukan di hati.
Wassalam,
Guk Seta
‘belajar Sufipreneur’www.divren.co.id (Web Development for UKM & Profesional)
- 07/05/2008 01:27 - Kriteria terlalu banyak bertanya/bicara dalam Sufipreneur
- 07/05/2008 00:57 - Beri dia kekuasaan
- 20/04/2008 16:46 - Antara Sufipreneur dan Kearifan Lokal
- 02/04/2008 15:12 - Kita perlu ego
- 02/04/2008 14:56 - Geseran Visi & Misi
- 27/03/2008 16:15 - Beda Sosial dan Spiritual

